Chef Arnold Menolak Menjadi Juknis BGN

Badan Gizi Nasional (BGN) menggandeng koki selebriti Arnold Poernomo atau Chef Arnold dalam penyusunan petunjuk teknis (juknis) baru pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penyusunan juknis baru ini bertujuan untuk memperbaiki tata kelola pelaksanaan program MBG yang menjadi program prioritas pemerintah.

Dalam unggahan di akun media sosialnya, Kepala BGN Nanik Deyang, bersama dua wakilnya Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono bertemu dengan Chef Arnold untuk bertukar pikiran mengenai perbaikan program MBG.

Beberapa hal yang dibahas berupa perombakan tata kelola dari sisi sumber daya manusia (SDM), manajemen dapur, peralatan, hingga penyusunan bank menu. Langkah ini diambil demi meningkatkan kualitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta SDM yang mendukung operasional di lapangan.

Sebelumnya, Nanik berjanji akan membenahi tata kelola BGN saat resmi dilantik menjadi Kepala BGN yang baru. Fokus utamanya adalah efisiensi, evaluasi menyeluruh, serta penekanan pada kualitas program MBG.

Nanik akan menggeser fokus dari mengejar kuantitas menjadi mengutamakan kualitas. BGN akan turun tangan langsung untuk mengecek apakah ribuan dapur yang sudah beroperasi telah sesuai dengan juknis yang ditetapkan.

Lebih lanjut, Nanik berencana merancang skema pembiayaan baru guna meringankan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Terutama untuk pelaksanaan MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Arnold Poernomo memutuskan mundur dari tim penyusunan petunjuk teknis (juknis) program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Chef Arnold mengaku dirinya memang mendapat tawaran menjadi bagian dari tim BGN. Namun, kata Chef Arnold, keterlibatannya hanya sebatas memberikan rekomendasi berdasarkan kajian yang dilakukan bersama timnya.

“Saya memang diminta untuk memberikan pendapat untuk juknis BGN. Saya dan tim tentu sudah review dan mempelajarinya.” Tulis Chef Arnold.

Menurut juri ajang memasak populer itu, MBG merupakan program yang sangat kompleks untuk dijalankan, terutama jika menyasar wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Ia menilai berbagai aspek harus diperhitungkan secara matang, mulai dari distribusi logistik, ketersediaan bahan pangan, hingga kesiapan sumber daya manusia di daerah.

“Program MBG ini sangat kompleks terutama untuk 3T dari logistik, ketersediaan bahan, sumber daya manusia (SDM), dan sebagainya.” Ujar Chef Arnold.

Tantangan tersebut, menurut Chef Arnold, membutuhkan strategi yang komprehensif agar program unggulan pemerintah itu benar-benar dapat berjalan efektif dan menjangkau seluruh penerima manfaat secara merata.

Setelah mempelajari berbagai aspek program, Chef Arnold memutuskan untuk tidak menerima tawaran bergabung dalam tim BGN. Ia mengaku merasa masih banyak pihak lain yang memiliki kapasitas dan pemahaman lebih mendalam untuk membantu menyukseskan program berskala nasional tersebut.

“Saya rasa banyak orang lain yang lebih hebat, capable dan paham lebih dari saya.” Ucap Chef Arnold.

Keputusan tersebut sekaligus menjawab berbagai spekulasi publik terkait keterlibatan Chef Arnold dalam program Makan Bergizi Gratis yang belakangan ramai diperbincangkan.

Walau memilih tidak bergabung secara resmi, Chef Arnold menegaskan dirinya tetap memberi masukan kepada pihak terkait, khususnya mengenai aspek operasional pelaksanaan program.

Ia berharap berbagai rekomendasi yang telah disampaikan dapat membantu pemerintah menyusun strategi yang lebih efektif dalam menjalankan program pemenuhan gizi masyarakat tersebut.

“Semua masukan tentang operasional sudah kami sampaikan, dan semoga bisa lebih strategis.” Pungkas Chef Arnold.