Ian Kasarunk Meninggal Dunia

Kabar duka datang dari industri musik Tanah Air. Christian Wibisono atau yang selama ini dikenal sebagai Ian drummer Rocker Kasarunk meninggal dunia di Jakarta pada Hari Selasaa, 17 Maret 2026 setelah berjuang melawan kanker paru-paru.

Kabar duka itu disiarkan pengamat musik Stanley Tulung melalui akun medias sosialnya. Dalam unggahannya, Stanley Tulung menyampaikan rasa duka dan berdoa semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

“@chrystian_johanes seorang teman dan sahabat musisi yang baik dan asyik. Semoga lapang jalanmu menuju keabadian sejati dan tenang di sana yah.” Tulis Stanley Tulung.

Ferdy Tahier yang merupakan vokalis dari band Rocker Kasarunk, membenarkan kabar duka itu. Melalui unggahan di akun media sosialnya, Ferdy Tahier menyampaikan rasa duka atas kepergian Chrystian Johannes atau Ian. Mendiang tutup usia pukul 18.41 di RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

“Selamat jalan sahabatku…sekarang udah ga sakit lagi..kenangan kita terakhir photo session ini..gw tau lo udah berjuang..hebat sahabat gw…seneng disana ya brader. Nanti kita ketemu lagi brother. Selamat jalan @chrystian_johanes.” Tulis Ferdy Tahier.

Rizky, sahabat Ian Rocker Kasarunk, menyebut almarhum sudah cukup lama berjuang melawan penyakit kanker paru-paru.

“Jadi menurut analisis, itu kanker stadium 3A menjelang ke empat. Kalau dihitung-hitung sih sebenarnya sudah 2 tahun, 3 tahun terakhir.” Ujar Ricky.

Walau digerogoti sel kanker, kecintaan Ian terhadap dunia musik tidak pernah luntur. Ricky bercerita mendiang punya dedikasi luar biasa dan tetap tampil menghibur penggemar di atas panggung.

“Oh, sempat. Setiap kali manggung dia itu Cuma bisa satu atau dua lagu karena itu lagunya Rocker Kasarunk sangat hype ya, maksudnya memacu banget. Nah, dia itu hanya sanggup satu atau dua lagu. Habis itu sudah pakai additional gitu lho.” Beber Ricky.

Nyatanya perjuangan sang musisi di atas panggung harus terhenti saat kondisi fisik merosot. Ricky menuturkan awal mula rangkaian perawatan intensif yang harus dijalani almarhum menjelang hari-hari terakhir hidupnya.

“Cuma akhir-akhir ini setelah sebulan terakhir ini, dia merasakan ada drop gitu. Saya juga melihatnya dia drop, akhirnya dibawa ke rumah sakit.” Ucap Ricky.

Perjalanan medis mendiang cukup panjang, karena ia harus berpindah-pindah fasilitas kesehatan demi mendapat penanganan optimal. Lebih lanjut Ricky merinci riwayat pengobatan Ian yang sempat dirawat di dua rumah sakit berbeda sebelum kondisinya makin kritis di rumah.

“Pertama dibawa ke RSUD Pasar Minggu, selama seminggu dirawat, terus dibawa pulang. Ya terus akhirnya berapa hari lalu sempat dibawa ke Dharmais, akhirnya pulang lagi. Akhirnya sudah, kemarin itu saya sempat ke rumahnya dia, saya tengok ke rumahnya, kondisi dia juga sudah lemah.” Tutur Ricky.

Alhasil, keluarga terpaksa melarikan Ian ke Rumah Sakit Fatmawati Jakarta karena Ian kesulitan menarik napas. Ricky menyaksikan langsung betapa beratnya rasa sakit yang harus ditanggung almarhum di detik-detik terakhir jelang kepergiannya.

“Akhirnya tadi dibawa ke sini, ke Rumah Sakit Fatmawati. Dan dia menderita di sini, dia sakit banget, dia ngos-ngosan banget, dia kesakitan. Ya kita hanya bisa menemani dia dari jam 12, setengah 1 sampai saat ini dia pergi.” Ucap Ricky.

Sebelum wafat, keluarga mendiang sempat mengambil keputusan medis paling berat demi mencegah penderitaan yang lebih parah. Istri almarhum secara sadar menolak tindakan pompa jantung, karena menyadari hal itu hanya akan menambah rasa sakit pada suaminya.

“Jadi akhirnya saya merasa istrinya dari Ian itu sudah mengambil keputusan yang tepat, dia tidak ingin Ian untuk merasakan sakit lagi lebih. Jadi ya akhirnya diikhlaskan.” Pungkas Ricky.