Jessica Iskandar Hamil Anak Ketiga

Jessica Iskandar baru-baru ini mengungkapkan tentang kehamilannya yang ketiga. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini istri dari Vincent Verhaag tersebut memilih untuk menjalani program bayi tabung.
Walau demikian, Jessica Iskandar juga sadar bahwa kehamilan di usia 36 tahun memiliki risiko kesehatan tinggi. Oleh karena itu, ia berusaha untuk meminimalisir hal itu dengan menjalani bayi tabu.
“Saya dan Vincent sudah lama mendambakan memiliki anak lagi (ketiga), dan Morula IVF Surabaya adalah tempat terbaik untuk mewujudkan mimpi dalam memperoleh buah hati yang sehat secara genetik. Doakan agar kehamilan saya saat ini selalu sehat dan juga masih sempat melahirkan di Tahun Naga.” Ujar Jessica.
Untuk mendukung rencana Jessica Iskandar dan Vincent Verhaag dalam menjalani program tersebut, dr. Benediktus Arifin, MPH, SpOG(K), FICS dari Moruvla IVF Surabaya mengatakan bahwa mereka menggunakan teknologi andalan Morula IVF Surabaya yakni Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A). Ini untuk menghadirkan buah hati ketiga ini dengan kondisi genetik yang sehat.
“Bonus yang juga ingin kita kejar adalah dapat lahir di Tahun Naga, sesuai harapan Jessica dan Vincent. Semoga perjalanan mewujudkan impian ini terus dapat berjalan dengan lancar. Jangan lupa untuk selalu berdoa, berusaha, dan bersyukur.” Ujar dr. Benny.
Ia juga menjelaskan, bahwa saat ini Jessica yang sudah berusia 36 tahun, memiliki risiko yg lebih tinggi utk kelainan kromosom pada embryo, bila hamil.
“Dengan metode PGT-A, hal ini dapat diseleksi dulu dengan akurasi sampai 98-99%. PGT-A direkomendasikan untuk pasien yang berusia diatas 35 tahun keatas.” Imbuh dr. Benny.
Program bayi tabung dijalani setelah Jessica Iskandar dan Vincent Verhaag ingin kembali punya anak di 2024 ini.
“Kami mau punya anak di tahun naga, maka program bayi tabung.” Ucap Jessica Iskandar.
Menurut fengsui, anak yang lahir di tahun naga akan memiliki keberuntungan dalam hidupnya.
“Shio naga ini cocok sama El Barack yang shio kuda dan anak keduaku yang shio macan, sementara aku dan Vincent itu shio kelinci dan monyet. Semoga anak ketiga bisa melengkapi, keseimbangan, dan keselarasan dalam rumah-tangga kami.” Ucap Jessica Iskandar.
Perempuan yang akrab disapa Jedar itu memilih bayi tabung setelah dokter memberi tahu ada risiko apabila menjalani program hamil alami.
“Kami meminimalisir risiko bayi lahir cacat, makanya pilih bayi tabung. Dan ada tekhnologi canggih kenapa tidak digunakan.” Ucap Jessica Iskandar.
Vincent Verhaag berharap kehamilan Jessica Iskandar ini tetap sehat sampai saatnya melahirkan.
“Sebagai suami, saya support istri.” Ucap Vincent Verhaag.
Berdasarkan keterangan dari Vincent, dirinya tidak menjadikan program Morula IVF di Indonesia sebagai pilihan tanpa pertimbangan. Vincent mengaku sudah melakukan beberapa research.
“Aku juga lumayan research, Cuma bukan di Indoensia doang, tapi di luar negeri. Teknologi yang diberikan di Indonesia, yang di Surabaya ini sama.Dari segi teknologi, itu sama.” Jelas Vincent Verhaag.
Sementara soal biaya yang dikenakan disebut lebih terjangkau di Indonesia ketimbang di luar negeri. Namun, persoalan biaya bukan menjadi faktor utama di balik pertimbangan Vincent maupun Jessica Iskandar.
Soal biaya dari program bayi tabung yang dijalaninya, Jessica Iskandar tidak berbicara banyak. Namun dokternya, dr. Benediktus Arifin mengungkapkan fakta yang tidak terduga.
Menurut dokter di National Hospital Surabaya ini, program bayi tabung menawarkan harga yang bervariasi tergantung jenis sub-program yang dipilih. Menurutnya, program bayi tabung ini bisa dijalankan oleh berbagai kalangan.
“(Program bayi tabung) sangat bisa untuk masyarakat yang ekonominya terbatas. Ada banyak program yang bisa dilakukan secaar bertahap dan tidak langsung. Pemerintah Indonesia dan Morula sedang berusaha memasukkan program ini ke dalam asuransi kesehatan.” Ungkap dr. Benediktus Arifin.
Sementara itu, ditelusuri dari laman resmi milik Morula, memang benar bahwa biaya dari program bayi tabung beragam. Namun, harga yang dimaksudkan dimulai dari Rp. 60 juta hingga Rp. 100 juta di luar biaya penunjang dan penambahan obat.
