Anak Nia Daniaty Tersandung Kasus Penipuan

Anak Nia Daniaty, Olivia Nathania, dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas tuduhan penggelapan, penipuan, serta pemalsuan Surat pada 23 September 2021. Olivia Nathania bersama suaminya, Rafly N Tilaar dilaporkan atas dugaan penipuan, penggelapan uang dan pemalsuan surat. Dia memberikan iming-imingan jabatan PNS kepada 225 orang dengan total kerugian para korban mencapai Rp 9,7 miliar.
Laporan tersebut diterima Polda Metro Jaya dengan Nomor LP/B/4728/IX/SPKT/POLDA METRO JAYA, Tanggal : 23 September 2021. Atas perbuatannya, Mereka dikenai Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 263 KUHP.
Modus yang dilakukan anak Nia Daniaty, Olivia Nathania dalam kasus dugaan penipuan calon pegawai negeri sipil (CPNS) akhirnya terungkap. Kuasa hukum salah satu korban bernama Karnu, Odie Hodianto mengatakan Olivia kerap memamerkan pose bersama pejabat untuk menyakinkan para korban.
“Dia (Olivia, red) nunjukin kemarin saya ketemu sama si A, hanya foto,” kata Odie Hodianto di Polda Metro Jaya.
Odie menyebut Olivia Nathania juga memamerkan foto bersama pejabat eselon satu. Menurutnya, anak Nia Daniaty itu punya beberapa foto yang sering dipamerkan kepada calon korban.
“Ramai-ramai para pejabatlah, ada dianya, ada juga yang enggak. Ada yang sekelas eselon satulah di kementerian,” jelasnya.
Karnu yang melaporkan Olivia Nathania terkait kasus dugaan penipuan telah menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Saat diperiksa penyidik, korban penipuan tersebut menyerahkan tiga barang bukti. Antara lain, dokumen palsu seperti nota dinas, SK pengangkatan PNS, dan nomor induk pegawai.
Putri Nia Daniaty, Olivia Nathania alias Oi akhirnya buka suara terkait dugaan kasus penipuan perekrutan 225 orang untuk CPNS. Didampingi kuasa hukumnya, Olivia Nathania membantah telah melakukan penipuan. Sebaliknya, dia menawarkan les untuk lolos CPNS.
“Saya menyelenggarakan les untuk masuk tes CPNS. Les kita bicaranya. Jadi nanti bisa dilihat tempatnya ada, pengajarnya ada,” ungkap Olivia Nathani saat jumpa press di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan.
Olivia Nathania pun tidak mengelak telah menerima uang sebesar Rp25 juta. Namun dia tidak pernah menjanjikan orang untuk diterima menjadi abdi negara.
“Memang saya terima uang Rp 25 juta per orang,” tuturnya.
Uang yang diterimanya digunakan untuk keperluan les calon PNS. Semua dipakai buat membayar gedung dan para pengajar.
“Dengan uang 25 juta itu digunakan untuk apa, untuk les pengajar dan lain-lain,” tuturnya.
Tidak hanya itu, Olivia Nathania juga memastikan bila mantan gurunya, Agustin itu bukan korban. Agustin justru yang menjanjikan ke orang-orang untuk menjadi seorang PNS.
“Saya ingin menjelaskan bahwa ibu Agustin ini sebenarnya bukan korban. Melainkan dia yang merengkrut orang-orang terasebut. Saya tidak pernah bertemu langsung dengan orang-orang tersebut,” terang Olivia Nathania.
Salah satu korban Olivia Nathania, lelaki berinisial J membongkar modus lain yang dilakukan anak Nia Daniaty itu. Olivia Nathania mencatut nama Anies Baswedan dalam penipuan berkedok lolos seleksi CPNS untuk wilayah DKI Jakarta.
Saat itu, ia menceritakan pelantikan seleksi pegawai CPNS dilakukan secara virtual dan diikuti oleh beberapa peserta. Setelah menyadari beberapa janji Olivia Nathania tidak ditepati, lelaki ini menduga sudah dibohongi. Dia menilai, Olivia Nathania memasukkan potongan video penyambutan Anies Baswedan ke dalam pelantikan virtual bodong itu.
“Insert doang lah (video Anies Baswedan). Rekayasa. Ibaratnya kalo orang mau nipu. Apa aja dilakukan,” sebutnya.
Selain itu, salah satu korban Olivia Nathania yang lain, Agustin, mengatakan putri Nia Daniaty itu punya modus lain untuk meyakinkan korbannya. Salah satunya menggunakan testimoni orang yang telah lolos CPNS. Namun saat ditagih, Olivia Nathania tidak dapat memberikan testimoni tersebut. Alasannya, karena takut ketahuan.
“Baik temen-temen, saat saya tanyakan ke OI, ‘ini ada tidak testinominanya?’ Bilang katanya ‘ada bu’ , tapi ujung-ujungnya dia bilang ‘bu ini orangnya takut, bahaya kalau sampe dia ketauan’,” bebernya.
“Jadi sampe sekarang, tidak pernah ada,” tambahnya.
