Cerita Kamaya Tentang Perjalanan Hidupnya Pindah Agama

Penyanyi cantik Sylvia Damayanti alias Kamaya memutuskan untuk pindah agama Islam ke Kristen. Dia pun membagikan kisah saat pertama kali dirinya memutuskan untuk pindah agama.
Dia juga mengungkapkan pertama kali caranya bertemu dengan Yesus dan memutuskan pindah agama. Tidak disangka, Kamaya pun dibaptis di Sungai Yordan, salah satu tempat bersejarah bagi umat Kristen.
Singkat cerita, Kamaya berpacaran dengan seorang pria asal Israel. Mereka menjalin hubungan beda agama. Dari penuturan Kamaya, sang pacar merupakan anak pendeta. Wlaau begitu, dia tetap lanjut menjalin hubungan dan jadi lebih banyak sharing tentang agama.
“Saya gak ketemu Tuhan dalam mimpi, tapi lewat banyak peristiwa dan hidup saya, kalau disambungin ini jadi satu puzzle. Saya berpacaran sama orang yang sekarang jadi suami saya. Ternyata dia anak gembala, anak pendeta, dia juga lagi bandel-bandelnya, pacaran gak pusing. Jalan cukup lama dan sebelumnya itu ada salah satu momen,” ungkapnya dalam YouTube Diaspora TV.
Hingga akhirnya, sang ibu tahu hubungan putranya dengan Kamaya yang beda agama. Tentu ada hal yang membuatnya merasa akan ditolak oleh keluarga sang kekasih saat itu.
Terlebih lagi, sang ibu juga merupakan orang yang vocal dengan agamanya. Apalagi tahu anaknya menjalin hubungan dengan seorang muslim, dan ini menjadi pukulan berat.
“Tentu sebagai ibu gembala, kenalan dengan seorang muslim itu pukulan berat, bahkan jadi cibiran di tempat berkhotbah dan itu risiko buat dia, sementara dia khotbahnya cukup keras soal itu. Kalau ketemu saya bahkan menolak, sampai usir saya,” ucapnya.
Anehnya, apa yang ada di benak Kamaya justru berbanding terbalik. Keluarga sang kekasih saat itu memilih bergumul dan berdoa dengan Tuhan dengan khidmat.
“Rasanya Tuhan kasih tahu sama dia, ‘Ester kalau kamu tidak buka hati kamu, gimana dia bisa mengenal Kristus. Di situ saya merasakan kasih, sementara dia harus mengesampingkan semuanya, titelnya sebagai ibu gembala, belum lagi cibiran berkhobah dan dia mengajak, mendoakan saya. Dari situ, kami mulai bertemu, akhirnya mengajak saya sharing. Dia tidak bermaksud untuk megkristenisasi saya, dia hanya memperkenalkan siapa Yesus, siapa Tuhan,” paparnya.
Pada satu momen, dia pun diajak sang kekasih untuk pergi ke Israel. Namun Kamaya ragu, karena tentu akan berhubungan dengan agama yang dianut. Terkesan dipaksa, sang kekasih sampai rela jual baju preloved untuk mengumpulkan uang agar bisa mewujudkan impiannya mengajak Kamaya pergi ke Israel.
“Saya tolak mentah-mentah ngapain ikut kesana, itu kan ibadah lo, bukan ibadah gue, tapi orang ini please kasih 1 kesempatan. Saya bilang, ya udah kalau memang Tuhan izinkan aku ke Israel pasti aku akan injakkan kaki di sana,” ungkapnya.
Tuhan pun mendengar, Kamaya bisa pergi ke Israel. Ia pun heran karena sang kekasih bisa mengumpulkan uang, bahkan hasilnya melebihi target. Kamaya juga mengaku heran dengan dirinya sendiri dan memikirkan ucapannya di hadapan pria tercinta.
Dia juga mengatakan “Aku penah bilang kalau Tuhan mengizinkan aku ke Israel pasti aku menginjakkan kaki ke Israel, ini bikin merinding dan udah panik.”
Turun dari pesawat dan di dalam bis, Kamaya sangat memikirkan apa yang pernah dia ucapkan. Dia pun hanya bisa berdoa di momen ini.
“Aku merasa bengong dan saat itu aku berdoa, tapi ini kesannya sepele, aku doa tolong sekarang tunjukkan Tuhan yang benar, aku gak bisa mikir gitu karena ini terlalu aneh buat aku,” tutupnya.
Ibu 3 anak itu dengan tegas tidak pindah agama hanya karena pacarnya, tapi karena Tuhan mengetuk hatinya untuk jadi nasrani karena kemauannya sendiri.
“Soal prinsip itu enggak bisa diganggu gugat, cuman gara-gara cowok doang terus kita menukar keyakinan itu enggak worth it banget tapi ini masuk akal. Pada saat saya lagi makan siang, saya nyamperin tour leader saya nulis nama saya dibaptis dan tidak ada yang tahu,” ungkap Kamaya.
Kamaya akhirnya memutuskan dibaptis pada saat itu di sungai Yordan pada tahun 2013. Sempat memikirkan keluarganya, tapi ia semakin mantap saat mendaftar untuk dibaptis.
“Pada saat aku mau baptis pun aku juga sempat terbesit orang tua, keluarga, teman, pekerjaan, tapi entah kenapa pada saat itu aku enggak menjadikan itu sebagai suatu hambatan. Yang aku tahu pada saat itu aku harus melangkah ke depan dan aku menyerahkan diri aku dibaptis secepat itu. Prosesnya bertahun-tahun mungkin kayak setetes-setetes tapi saat dikumpulkan itu semua jadi masuk akal, itu semua jadi seperti puzzle yang lengkap,” ucapnya.
