Anak Bungsu Mona Ratulia Mengidap Penyakit Kulit

Pada 20 Mei 2020 lalu, pasangan artis Mona Ratuliu dan Indra Brasco tengah berbahagia karena kedatangan anggota keluarga baru. Mona Ratuliu melahirkan seorang anak perempuan melalui operasi caesar.

Setelah sekian lama, akhirnya Mona Ratuliu dan Indra Brasco mendapatkan nama yang tepat untuk anak keempatnya yang sebelumnya hanya diberi nama Numa. Sebenarnya nama tersebut sudah disiapkan sebelum anaknya lahir. Namun lantaran ada perdebatan masalah nama, akhirnya Mona Ratuliu dan suami mencoba berpikir untuk nama buah hatinya itu. Sampai pada akhirnya Raka, anak kedua mereka memberikan saran agar adiknya diberi nama Numa Kamala Srikandi.

“Raka bilang, “Sudahlah namanya yang dari awal sudah ditentukan aja’ yaitu Numa Kamala Srikandi. Tadinya mau Numa Kamala Srikandi atau Numa Kamala Maheswari. Itu bikin kita bingung. Tapi, ya udah deh, kita kembali ke plan awal (Numa Kamala Srikandi),” kata Mona Ratuliu dan Indra Brasco.
Bukan tanpa alasan Indra Brasco memberi nama anaknya Numa. Ia ingin memberi nama anaknya yang identik dengan nama orang Indonesia asli. Misalnya Srikandi atau Maheswari.

Hadirnya anggota keluarga baru memang membawa kebahagiaan tersendiri bagi orangtua, termasuk juga pasangan Mona Ratuliu dan Indra Brasco. Selisih usia yang terpaut 8 tahun dengan anak ke tiganya, membuat pasangan artis tanah air ini harus mulai belajar pola asuh yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Namun kini, sebuah kabar yang kurang baik datang dari Mona Ratuliu. Bayinya yang lahir pada Bulan Mei lalu ini, Numa Kamala Srikandi kini tengah mengidap sebuah penyakit kelainan pada kulitnya yang bernama Dermatitis Atopik.
Bocah yang karib disapa Numa itu sedang mengalami Dermatitis Atopik, jenis alergi yang membuat wajahnya memerah di beberapa bagian. Belum lama ini, Mona pun kembali memberikan informasi terbaru mengenai kondisi sang anak keempat yang belum juga membaik. Padahal, Mona sudah mengubah pola makannya demi kesembuhan sang buah hati.

Dermatitis Atopik, nama penyakit yang sedikit asing ini, beberapa waktu lalu sempat mencuat karena sebuah kisah yang viral di media sosial. Seorang ayah mengatakan wajah bayinya mendadak merah dan kulitnya mengelupas, dikarenakan disentuh sejumlah orang saat menghadiri sebuah acara pernikahan.

Penyakit ini sebenarnya tidak terlalu asing, namun kita mungkin lebih mengenalnya dengan nama eksim. Ciri-cirinya adalah kulit gatal, meradang, kemerahan, bengkak, membentuk vesikel (lepuhan kecil), retak, berkerak, dan bersisik.

Dermatitis Atopik merupakan penyakit kulit yang menetap dan kambuhan. Atopik adalah tipe spesial dari hipersensitivitas alergi. Belum diketahui secara pasti akan penyebab penyakit ini, namun terdapat komponen hereditari yang menyebabkan penyakit ini didapatkan secara genetik. Namun ada juga yang mendapatkannya karena faktor eksternal lingkungan. Dermatitis sendiri berarti peradangan pada kulit. Beberapa faktor eksternal juga bisa memicu atau memperparah kondisi Dermatitis Atopik, seperti tingkat kelembapan yang rendah, alergi musiman, sabun atau deterjen yang tidak cocok, dan udara dingin.

Penyakit ini bisa menyerang segala usia, namun lebih banyak kasus terjadi pada bayi dan anak-anak. Hal ini dikarenakan kulit bayi yang masih sangat sensitif, lebih tipis, dan sistem imunitasnya belum bisa bekerja dengan baik.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Srie Prihianti, SpKK, PhD, FINSDV, FAADV yang juga merupakan Ketua Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia menjelaskan, “Pada bulan-bulan awal, ketika sistem kekebalan tubuh bayi masih berkembang, kulit mereka 30% lebih tipis dan lebih sensitif dibanding kulit orang dewasa. Sehingga, mudah dan lebih cepat kehilangan kelembapan, serta rentan terhadap iritasi dan infeksi. Karena itu, para ibu sebaiknya memerhatikan perawatan kulit bayi, terutama berhati-hati dalam memilih produk perawatan kulit. Utamanya, pastikan penggunaan produk bayi yang teruji lembut dan halus, menjaga serta meningkatkan kelembapan kulit, juga pastikan tidak merusak keseimbangan pH ataupun microbiome kulit. Karena keseimbangan microbiome kulit merupakan salah satu faktor penting yang berperan pada sistem pertahanan pertama kulit bayi dari pengaruh dunia luar, agar terhindar dari iritasi dan infeksi.”

Berkaca pada kasus viral yang terjadi belakangan, kita tidak perlu menjadi over protektif terhadap buah hati kita. Sebetulnya, sentuhan dan ciuman bisa menjadi proses transmisi kuman. Hanya jika, yang menyentuh memang sedang sakit, tentu dapat menularkan penyakit tertentu. Namun, yang harus diingat juga adalah, kuman dan bakteri bisa didapat dari mana saja, salahh satunya, udara. Yang penting kulit bayi dijaga dengan baik. Kulit memiliki sistem imun tersendiri. Kita bisa menggunakan sabun dan pelembap yang disarankan, untuk pencegahan.

Dr. Srie juga tidak menyarankan penggunaan tisu basah untuk membersihkan pipi bayi. “Yang seringkali bermasalah dari tisu basah adalah kandungan alkohol di tisu itu. Alkohol akan mengangkat kulit mati yang berada pada lapisan atas kulit. Sebetulnya kulit mati tersebut seringkali juga menjadi lapisan pelindung bagi segala faktor pemicu lainnya. Jika ingin menggunakan tisu basah, gunakan tisu basah yang non-alkohol.”

Dermatitis Atopik bukanlah penyakit yang menular, baik melalui udara ataupun kontak kulit. Namun, pasien Dermatitis Atopik yang mengalami infeksi kulit dari bakteri Staphylococcus, virus herpes, atau infeksi jamur, dapat menularkan infeksi tersebut melalui kontak kulit.

Namun, ada benda yang dapat memperparah irtasi pada pasien yang mengidap penyakit Dermatitis Atopik ini, salah satunya adalah iritan. Iritan adalah benda yang dapat secara langsung merusak kulit. Jika digunakan secara terus menerus dapat mengakibatkan kulit meradang. Contah iritan yang umum adalah sabun dengan kandungan keras, deterjen, beberapa parfum atau kosmetik, klorin, debu, pasir, asap rokok, baju dengan bahan wol atau sintetik, serangga tungau, dan serbuk sari.

Pada umumnya, penyakit Dermatitis Atopik masih dapat diatasi dengan perawatan di rumah, tidak harus ke dokter atau rumah sakit. Cara penangannya adalah :

• Memandikan dengan air suam-suam kuku (tidak terlalu dingin, namun juga tidak terlalu panas)
• Oleskan pelembap segera setelah mandi. Pelembap juga dapat dioleskan beberapa kali dalam sehari, dengan jeda waktu 3 hingga 4 jam.
• Gunakan hanya satu jenis sabun dan pelembap. Sebaiknya, pilih sabun batang dengan komposisi alami.
• Hindari menggunakan terlalu banyak produk dengan pewangi, karena dapat meningkatkan sensitivitas kulit.
• Pilih pakaian dengan bahan katun halus.
• Gunting kuku si kecil untuk mencegahnya menggaruk hingga luka.
• Jaga kelembapan udara di rumah dengan menggunakan humidifier

Jika memang kondisinya tidak juga membaik, kita bisa berkonsultasi ke dokter kulit. Biasanya dokter akan memberikan obat topikal, dan akan dirujuk pada dokter spesialis alergi untuk menguji pemicu alergi pada pasien.